HukumKesehatanMedanSumut

Praktisi Hukum Kota Medan Angkat Bicara Terkait Dugaan Malapraktik di Rumah Sakit Royal Prima

MEDAN,SUARA24.COM- Praktisi Hukum Kota Medan Rambo Silalahi, SH angkat bicara mengenai adanya dugaan Malapraktik di Rumah Sakit Royal Prima Medan, Sumatera Utara.

Rambo Silalahi SH menegaskan, terkait bagian tubuh pasien yang mengalami pembusukan pasca operasi yang dilakukan oleh Dokter maupun Perawat maka pihak rumah sakit wajib bertanggungjawab, terhadap pasien yang dirugikan.

“Bila kejadiannya demikian sudah patut diduga kejadian yang menimpa pasien RS Royal Prima itu adalah malpraktik, maka dokter yang melakukan operasi, perawat hingga Rumah Sakit wajib bertanggung jawab karena telah gagal dalam menyelenggarakan standar pelayanan yang berlaku yang merupakan tanggung jawab dalam profesi dokter. Dan harus diketahui juga bila dokter melakukan hal-hal yang termasuk dalam ruang lingkup malpraktek, maka dokter dapat dimintai pertanggungjawaban secara pidana, sesuai dengan dengan ruang lingkup malpraktek yang dilakukan” ujarnya, Sabtu (29/07/2023).

Masih pada kesempatan yang sama Rambo juga meminta agar Dinas Kesehatan Kota Medan menyikapi hal ini dengan serius.

“Dinas Kesehatan Kota Medan harus serius menyikapi hal-hal seperti ini, jangan dibiarkan lakukan inpestigasi bila perlu, karena dalam melakukan tugasnya Dokter harus benar-benar mempuni, ini menyakut nyawa manusia jangan dianggap sepele” tutupnya.

Diberitakan sebelumnya, pasien di rumah sakit Royal Prima diduga menjadi korban malapraktik. Pasien atas nama M.Syadihka mengalami pembusukan pada bagian tubuh yang telah selesai di operasi.

Informasi yang dihimpun, M.Syadihka merupakan pasien Kecelakaan Lalulintas pada tanggal 19 Juni lalu.

“Ia masuk ke rumah sakit Royal Prima pada tanggal 19 Juni, dan pada tanggal 22 Juni selesai operasi dan masuk ruang ICU 10 hari” ucap keluarga pasien.

M.Syadihka pulang dari rumah sakit pada hari Selasa tanggal 07 Juli. Dan seminggu kemudian disuruh untuk kontrol agar pasien datang pada tanggal 20. Akan tetapi pada tanggal 19 sudah mengeluarkan nanah dari bekas jahitan operasi tersebut.

Melihat hal tersebut, pihak rumah sakit menyarankan agar dirawat di UGD. Disini pasien bermalam sampai ke esokan harinya, dan pada pukul 09.00 wib barulah bertemu dengan dokter.

“Dokter berpesan agar rajin – rajin dipijit agar nanahnya keluar” ucap keluarga pasien menirukan ucapan dokter.

Dilain sisi, relawan Jokowi Jaringan Pendamping Kebijakan Pembangunan (JPKP) Sumatera Utara (Sumut) Ria Sitorus menyanyangkan kejadian tersebut. Menurutnya hal ini sebaiknya tidaklah terjadi jika ditangani dengan profesional.

” Pasien Syahdika awalnya mengalami lakalantas. Lalu di ambil tindakan operasi.
Tapi ketika pihak RS menyatakan pasien sudah boleh pulang, berapa hari dirumah pasien mengalami keluar nanah terus menerus dari lubang usus atau perut” beber Ria Sitorus yang dikenal masyarakat kerab membantu kaum marjinal itu.

Lanjut Ria Sitorus, pihaknya yang mendampingi pasien juga telah melakukan protes terhadap pelayanan di rumah sakit tersebut. Kenapa pasien masih kondisi sakit diarahkan untuk berobat jalan?

Pihak rumah sakit pada saat itu mengklaim bahwa hal ini atas arahan dokter kata dia mengisahkan.

Pasien dugaan malapraktik tersebut sudah sampai lemas dan diarahkan untuk dirujuk ke Rumah Sakit Adam Malik kata dia.

Dikonfirmasi terpisah pihak Rumah sakit Royal Prima melalui PIC Pengaduan bernama Novi dinomor kontak 0811-655X -XXX, Novi mengarahkan agar pasien diarahkan ke rumah sakit untuk dilakukan kontrol ucapnya dalam pesan tertulisnya.

“Maaf pas sebaikmya dibawa ke rs kontrol kembali ke dokternya bpk ibu. Tksh” tulisnya.(Edy/Ly)

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close