MEDAN, SUARA24.COM- Pada agenda kegiatan kajian budaya Tionghoa Nusantara yang dilakukan tanggal 03 November 2022 sampai dengan tanggal 09 November 2022, LEMPABUDTI YIHLP dan pihak ERC Fisip USU melakukan kunjungan ke beberapa narasumber dalam mengambil data kesukuan Tionghoa yang ada di kota Medan.
Tim kajian budaya Tionghoa Nusantara ERC FISIP USU & LEMPABUDTI YIHLP yang terdiri dari Dra.Mariana Makmur,MA dan Drs.Agustrisno, M.sp selalu perwakilan dari ERC Fisip USU sedangkan dari pihak LEMPABUDTI YIHLP diikuti oleh Ketua Medan, Edy Candra.
Dimana tanggal 03 November 2022 Nara sumber yang berhasil di kunjungi dalam agenda pengkajian terhadap kesukuan dan juga asal muasal masuknya ke kota Medan adalah suku Hokkien, Suku Chau an dan suku Hai Liok Hong.
Dalam menggali informasi tentang kebudayaan dari sisi kesukuan Tionghoa ini tim kajian mendatangi para nara sumber yang tergolong sudah lansia dan merupakan generasi kedua bahkan ke tiga dari kesukuan nya, dimana bapak Ang Lai Huat dari suku Hokkien, bapak Yap Beng Yu dari Suku Chau An, bpk Tony Harsono dari Suku Hai Liok Hong.
Selanjutnya tim kajian yang di wakili oleh Dra.Mariana Makmur,MA dan Edy Candra melakukan safari kunjungan pada tgl 9 September 2022 dengan suku Hubei yang di wakili oleh Dr. Irwanto Phen dari suku Hubei dimana beliau juga merupakan ketua perkumpulan Hubei Sumut yang didampingi oleh bpk Hepanto Phang dan bpk Darson Song dari suku Hubei.
Dari hasil safari sepekan tim kajian budaya Tionghoa Nusantara mendapatkan hal yang istimewa dari suku Hubei, dimana Warga Hubei yang merantau ke Asia Tenggara dan wilayah lainnya di dunia, termasuk yang datang ke Sumut, mayoritas berasal dari daerah Tianmen ( yang di artikan gerbang langit ) di provinsi Hubei, Tiongkok.
dan sesama sebelum pandemi Covid-19, pemerintah provinsi Hubei, juga sering berkunjung ke Indonesia terutama di Sumut dalam menjalin silaturahmi, juga yang tidak kalah menarik dari suku Hubei adalah para perantau yang datang ke Nusantara banyak yang berprofesi sebagai tukang Gigi dan menjadi turun temurun sampai saat ini, walaupun profesi tersebut sudah hampir menghilang akibat perkembangan jaman, namun profesi tersebut saat ini berkembang menjadi dokter gigi, ungkap Irwanto kepada tim kajian. ( Apri )
