Yoan Rukhiyat: Dari Warnet di Lampung Utara ke Satu Juta Subscriber

Di balik channel YouTube Yoan Exe yang kini mengantongi satu juta subscriber dan lebih dari 250 juta views, ada seorang pemuda kelahiran April 2005 asal Lampung Utara bernama Yoan Rukhiyat. Ia bukan lahir dari keluarga berada—ayahnya seorang tukang jahit—dan perjalanannya menuju panggung kreator Free Fire nasional dimulai dari tempat yang sangat sederhana: layar ponsel Nokia jadul dan bilik warnet dekat sekolah dasarnya.

Masa Kecil: Nokia Jadul dan Tabungan Uang Jajan

Kecintaan Yoan pada game tumbuh sejak dini. Di ponsel Nokia lawas, ia menghabiskan waktu bermain game ular, monyet, helikopter, dan berbagai game klasik lainnya. Saat duduk di bangku SD, ia rela menyisihkan uang jajan—ditambah uang pemberian sang nenek—demi membeli ponsel pertamanya. Harganya tak sampai satu juta rupiah.

Ponsel itu tak berumur panjang. Kebiasaan mengunduh game dan mod sembarangan dari internet membuat perangkatnya kerap rusak terkena virus. Justru dari kerusakan itulah babak baru dimulai: Yoan mulai menyambangi warnet tempat tantenya bekerja, dan di sanalah ia mengenal dunia digital lebih dalam.

Era Warnet: Kecanduan Point Blank dan Pelajaran Pahit

Game pertama yang ia mainkan di warnet adalah Plants vs. Zombies dan Modoo Marble—game monopoli online yang kini servernya telah tutup di Indonesia. Namun Point Blank-lah yang benar-benar menyita hidupnya. Yoan rela tidak jajan di sekolah dan rajin meminta uang kepada neneknya demi bermain: mulai dari enam ribu rupiah untuk dua jam, hingga sepuluh ribu rupiah untuk empat jam sehari. Selain Point Blank, ia juga menjajal Lost Saga, CS:GO, dan game-game Facebook. Hingga SMP, pangkatnya di Point Blank sudah mencapai Mayor 2.

Ada pola unik dalam kebiasaannya: ia berhenti ke warnet saat ponselnya diperbaiki, lalu kembali lagi begitu ponselnya rusak. Mengapa tidak menabung untuk memperbaiki ponsel? Jawabannya sederhana—ia sudah terlalu kecanduan hingga tak sanggup melewatkan sehari pun tanpa bermain. Bahkan ketika warnet tempat tantenya bekerja tutup, ia rela berjalan kaki lebih dari satu kilometer setiap hari menuju warnet lain yang dekat dengan sekolahnya.

Masa itu juga meninggalkan pelajaran pahit. Yoan kecil yang polos pernah tergiur tawaran skin senjata gratis dari seseorang di warnet—yang ternyata jebakan phising. Lucunya, saat mengetik password di komputer orang itu, ia memiringkan keyboard agar tidak terlihat. Akun Point Blank-nya selamat dari pergantian password karena terhubung dengan nomor telepon, tapi seluruh senjata di akunnya sempat “dihabiskan” oleh si pelaku. Teman-temannya sampai turun tangan mendatangi orang tersebut, meski Yoan sendiri tak tahu apa yang mereka lakukan.

Merintis YouTube: Diledek “YouTuber” yang Menjadi Doa

Memasuki SMP, Yoan mulai mencoba peruntungan di YouTube. Ia memulai dengan konten reupload, tutorial PixelLab, dan aplikasi penghasil pulsa gratis. Penghasilannya tidak seberapa, tapi rasa senangnya luar biasa. Channel pertamanya gagal dimonetisasi karena konten reupload, sehingga ia membangun channel baru dengan konten Free Fire exe—dan dari sinilah nama “Yoan Exe” lahir: gabungan nama aslinya dan genre konten meme exe yang ia geluti.

Di masa-masa awal itu, Yoan kerap dikira punya banyak uang di sekolah. Ada teman perempuan yang bercanda meminta uang, dan ia sering diledek “YouTuber” oleh teman-temannya. Belakangan, ledekan itu ia maknai sebagai doa yang terkabul.

Perjuangannya jauh dari mudah. Berbekal Redmi 5A yang dibelikan nenek dan kakeknya, ia mengedit video exe Free Fire—yang terkenal sulit diedit—sepulang sekolah di rumah neneknya. Karena kuota internet saat itu mahal, ia rela pergi ke pusat kota untuk menumpang WiFi umum di dekat tugu. Salah satu momen yang paling ia kenang: duduk di batu taman dekat tugu itu, memamerkan penghasilan YouTube sebesar Rp300 ribu kepada temannya. “Memang tidak banyak, tapi itu momen paling diingat,” kenangnya.

Di luar YouTube, Yoan sempat melamar dan diterima sebagai penulis di Booyah.co.id, media resmi Free Fire, dengan nama pena “Peredam Suara”. Ia menulis 67 artikel sebelum berhenti karena channel YouTube-nya mulai menanjak.

Naik Daun di Masa Pandemi, Berjuang Setelahnya

Titik balik datang bertahap. Orang tuanya membelikan ponsel Vivo Y17 dengan syarat ia mau mengaji di pondok. Kemudian, dari uangnya sendiri, ia membeli PC dan ponsel baru—bertepatan dengan harga kuota yang mulai murah dan datangnya pandemi. Di masa itulah Yoan Exe menemukan pasarnya dan naik daun setinggi-tingginya.

Namun ketika pandemi mereda, views channel-nya ikut menurun. Yoan memutar otak: mencoba gaya editing ala Budi01 Gaming dengan menampilkan wajahnya, gagal; meniru AXEGOD, gagal juga; hingga sempat menjadi freelancer jasa edit video. Akhirnya ia meninggalkan konten exe dan beralih ke konten spin event dan bocoran Free Fire—dengan tetap mempertahankan efek suara khas exe agar identitas nama channel-nya tidak hilang.

Lahirnya Yoanshop: Dari Endorse yang Berhenti

Peralihan konten saja tidak cukup. Tanpa penghasilan pasti selain AdSense yang tak seberapa, Yoan memberanikan diri mengeluarkan modal besar untuk membangun website top up game sendiri. Idenya sebenarnya sudah muncul sejak pandemi—saat itu ia sempat terpikir membuka jasa top up via WhatsApp—dan kembali teringat pada 2024 ketika sebuah brand top up yang meng-endorse-nya berhenti bekerja sama setelah beberapa bulan.

Pada Juni 2024, lahirlah Yoanshop.id, yang kini dikenal sebagai website top up game dengan harga murah, aman, cepat, dan terpercaya. Bisnis itu terus berkembang: kini Yoanshop memiliki dua domain dengan server berbeda serta aplikasi resmi di Google Play Store.

Panggung Nasional: Dari “5 Dewa” hingga Bertemu Windah Basudara

Akhir 2024 menjadi tahun penuh pengalaman perdana. Yoan menginjakkan kaki di Jakarta untuk pertama kalinya, diundang Google Play ke event Winterlands Challenge bersama Letda Hyper, William GZ, Aldi TV, dan Dewa Nayya—kelimanya sampai dijuluki “5 Dewa” kreator di acara tersebut. Di tahun yang sama, ia diundang ke Free Fire Awards 2024 dan masuk dua nominasi sekaligus: Top Rising Star of the Year dan Most Active Creator of the Year. Meski tidak menang, baginya kesempatan bertemu para kreator besar seperti Budi01 Gaming, Andra ST, Rendy Rangers, EfdeWe, dan Letda Hyper adalah pengalaman tak terlupakan.

Tahun 2025, Garena mengajaknya menonton grand final Free Fire World Series (FFWS) 2025 di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Di penghujung tahun, ia kembali masuk nominasi Most Active Creator di Free Fire Awards 2025, diundang ke kantor Garena Indonesia, dan—di luar dugaannya—bertemu langsung dengan sang panutan, Windah Basudara.

Awal 2026, ia hadir di event BR Elite di Bekasi, sebuah map yang seluruhnya diisi konten kreator. Menariknya, ia berangkat dari Lampung dengan biaya pribadi dan hanya meminta tiket masuk dari Garena. “Sekalian jalan-jalan dan nambah koneksi,” katanya.

Keseharian: Begadang demi Event Jam 12 Malam

Hingga kini Yoan masih aktif mengunggah konten spin event, info, dan bocoran Free Fire, sesekali diselingi reaction, sambil mempromosikan website top up-nya. Ritme hidupnya mengikuti jadwal game: event Free Fire biasanya rilis pukul 12 malam, sehingga ia merekam dan mengedit saat itu juga, lalu menjadwalkan video tayang pukul 5 pagi. Ia tidur antara pukul 11 malam hingga 1 dini hari—lebih larut jika ada event spin menarik seperti bundle Evo atau SG2—bangun subuh untuk salat, tidur lagi, lalu bangun sekitar pukul 11 siang untuk mengurus YouTube dan website. Ia mengaku jarang nongkrong; keluar rumah paling hanya untuk membeli camilan atau jalan-jalan sebentar.

Jejak masa sulit masih membekas dalam ceritanya: dari tinggal di rumah nenek, pindah ke kontrakan kecil, hingga menempati rumah geribik yang kini telah menjadi jauh lebih layak. Apakah pernah terpikir berhenti dari YouTube? “Tidak pernah,” katanya. Bahkan seandainya dulu jadi melamar kerja, ia yakin akan tetap nge-YouTube.

Dari anak SD yang memiringkan keyboard agar password-nya tak terlihat, Yoan Rukhiyat kini berdiri sebagai kreator sejuta subscriber sekaligus pemilik bisnis digital. Ledekan “YouTuber” dari teman-teman sekolahnya, ternyata, memang sebuah doa.


Yoan Rukhiyat (Yoan Exe) — Sekilas Profil

  • Lahir: April 2005, Lampung Utara
  • Channel: YouTube Yoan Exe (1 juta subscriber, 250 juta+ views)
  • Bisnis: Yoanshop.id & Yoanshop.com (website top up game) + aplikasi di Google Play Store
  • Media sosial: TikTok @yoan_exee · Instagram @yoan_rukhiyat
Exit mobile version